Skip to content
Februari 21, 2011 / takissu

ketika…

Hari ini akan segera berakhir. Malam telah berdendang ria. Kegelapan telah menghipnotis semua mahkluk. Indahnya cahaya lampu seolah ingin membuat bulan dan bintang cemburu. Malam yang biasa. Tiada yang istimewa. Satu yang tak pernah berubah bagiku, baik siang maupun malam. Dirimu. Ya, dirimu.

Masih tetap sama. Aku “belum” menemukanmu. Aku “belum” mengenalmu. Masih tetap sama juga, kau akan menjadi yang terakhir bagiku. Ya, aku masih tetap menunggu waktu dimana kita akan bertemu. Aku selalu berdoa, kala waktu itu tiba, kita masing-masing sudah siap. Dan mau saling menerima.

Aku bukan manusia yang sempurna. Sebagai lelaki, aku punya kekurangan. Aku pernah gagal dalam cinta. Aku pernah mengecewakan dan pernah dikecewakan. Aku belajar dari semua itu. Ya, supaya aku bias memberikan kepadamu arti cinta yang sebenarnya. Aku akan melukiskan cinta yang baru dalam hidupmu. Cinta yang belum pernah kau rasakan. Bukan karena aku hebat, tapi karena semua kegagalan yang pernah kualami. Kau bukan segala-galanya bagiku. Masih ada keluarga dan teman-temanku. Tapi bukan berarti kamu tidak penting.  Kau tetaplah kau. Yang teristimewa. Ya, itulah namamu.

Setiap kali kulihat sepasang kekasih berjalan, aku bisa membayangkan aku berjalan bersamamu. Semua sudah ada di pikiranku. Sebelum kita bertemu, aku sudah siap bersamamu. Berjalan bersama, menikmati indahnya karya Sang Pelukis Kekal. Kau adalah ciptaan-NYA yang paling sulit dicari. Aku telah mencari ke batas samudra, ke ujung langit bahkan ditengah hujan, kau tak kutemukan jua. Yang membuat aku tenang adalah mungkin waktunya belum tepat untuk kita bertemu. Atau mungkin kita belum siap untuk bisa bersama.

Sudah ada yang datang mengetuk hati ini, tapi mereka tak bisa menggoncangkannya. Yang cantik, pintar dan kaya banyak nona, tapi kau, Yang Teristimewa, dimanakan dirimu? Apa kabarmu? Argh… Andai kau bisa meneriakan jawabannya ditelingaku saat ini. Andai kau ada dan menamparku saat ini, biar aku tidak terlarut dalam penantian ini.

Tahukah kamu, penantian ini membuat kita semakin kuat. Aku yakin hal ini. Karena, aku belajar banyak hal. Belajar bersabar, mengendalikan diri dan memahami orang lain. Aku yakin kau juga belajar. Katakan apa yang kau pelajari dari penantian ini ketika kita bertemu nanti. Aku ingin mendengarnya ketika kita bertemu dan mata ini bisa membaca semua ungkapan hati dalam sinar matamu.

Malam semakin larut, dan aku semakin tak tenang. Gelapnya malam dan dinginnya membuatku semakin resah. Gelapnya malam tak akan menyakitimu. Dinginnya malam ini telah kudekap disini supaya kau tetap hangat disana. Ya, supaya Yang Teristimewa bisa menikmati indahnya malam ini.

Sampai ketemu Yang Teristimewa. Akan kunanti saat dimana dinginnya malam kulepaskan dan kudekap lembut tubuhmu. Supaya engkau tetap hangat. Dan terlelap dalam dekapanku.

Sampai ketemu tulang rusukku. Aku telah jatuh cinta sebelum kita bertemu.

Salam ‘takissu. God bless you bertubi-tubi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: